Pages

Ads 468x60px

Rabu, 09 Januari 2013

Biaya Pendaftaran SNMPTN Gratis, Biaya Masuk "Gimana"?

Boleh saja peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 dibebaskan dari biaya pendaftaran. Namun, banyak peserta dan guru yang mempertanyakan biaya masuk ke perguruan tinggi negeri setelah siswa diterima. Siswa melalui jalur ini bahkan diperkirakan harus membayar biaya masuk yang jauh lebih tinggi daripada siswa yang diterima melalui jalur ujian tulis.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan bahwa gratisnya pendaftaran untuk SNMPTN 2013 seolah hanya kamuflase. Pasalnya, seperti tahun-tahun sebelumnya biaya masuk dari jalur tulis selalu lebih murah dibandingkan dengan jalur lainnya.

"SNMPTN yang sekarang, kan, seperti jalur undangan. Jadi, ya, biaya pendaftarannya gratis, tetapi uang masuk pasti akan mahal," kata Retno Selasa (1/1/2013).

Ia menambahkan bahwa biaya pendaftaran secara cuma-cuma pada SNMPTN 2013 ini tak akan berpengaruh. Untuk itu, sistem SNMPTN yang serupa jalur undangan ini bisa jadi justru akan menguras biaya saat sudah diterima dan harus membayar biaya masuk.

Memang hal ini terbukti dari setiap tahun penyelenggaraannya. Jika mahasiswa yang berhasil masuk melalui ujian tulis hanya dikenai biaya masuk berksiar Rp 5 juta-Rp 25 juta untuk berbagai macam jurusan, biaya masuk untuk jalur undangan dapat membengkak hingga ratusan juta rupiah.

Mendikbud Tegaskan Bahasa Daerah Tetap Ada

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menegaskan bahwa mata pelajaran bahasa daerah masih tetap ada dalam kurikulum 2013 yang pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing daerah.

"Saya tegaskan bahwa mata pelajaran bahasa daerah tetap ada sehingga tidak perlu dikhawatirkan," kata Nuh kepada pers di Jambi, Minggu (6/1/2012).

Mendikbud Nuh berada di Jambi dalam rangka kunjungan kerja selama dua hari. Dikatakan bahwa bahasa daerah tetap ada yakni di kolom kurikulum seni budaya dan prakarya. Bahasa daerah dan kelompok muatan lokal lainnya tetap terbuka untuk dimasukkan ke kurikulum.

Mata pelajaran bahasa daerah, lanjut Nuh, tetap sejajar dengan mata pelajaran yang lain. Kemdikbud akan menyampaikannya ke publik setelah uji publik terumuskan. Diakui Nuh, masih banyak pihak yang belum mengetahui bahwa bahasa daerah tetap ada sehingga menimbulkan polemik di masyarakat.

"Sekarang banyak yang protes, karena mereka belum jelas mengenai kurikulum baru ini. Kemdikbud akan menyampaikannya ke publik," kata Nuh.

Pelajaran bahasa daerah, katanya, disesuaikan pada daerah masing-masing seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan bahasa Jawa. Demikian juga di Sumatera Utara bisa menggunakan bahasa lokal setempat walau setiap provinsi memiliki banyak etnis yang berbeda.

Mengapa Prestasi Indonesia Redup di Olimpiade Fisika?

Penutupan Olimpiade Fisika Dunia atau World Physics Olympiad (WoPhO) 2012 yang berakhir pada hari Rabu (2/1/2013) meninggalkan pertanyaan tentang prestasi Indonesia yang kian redup di kancah olimpiade sains dan matematika tingkat dunia.

Dalam ajang ini, Indonesia hanya meraih satu medali perunggu. Hasil ini dipertanyakan karena sebelumnya Indonesia selalu menjadi salah satu negara yang rajin menggondol berbagai medali dari ajang serupa.

Pendiri Surya Institute, Yohannes Surya, mengatakan bahwa melorotnya prestasi Indonesia dalam pertandingan sains dan matematika tingkat dunia ini disebabkan kurangnya persiapan dari para peserta. Hal ini menjadi faktor utama gagalnya anak-anak Indonesia menyabet medali yang mampu mengharumkan nama bangsa.

"Pertama, masalah training. Anak-anak ini tidak diberikan persiapan khusus lagi untuk olimpiade," kata Yohannes saat dijumpai usai Closing Ceremony World Physics Olympiad 2012 di Aryaduta Hotel, Tangerang, Rabu (2/1/2013).

Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan bahwa bibit-bibit untuk olimpiade juga tidak terlihat lagi sejak tahun 2011 karena tim TOFI sudah tidak pernah diminta lagi oleh pemerintah untuk melatih para calon peserta olimpiade. Peringkat Indonesia juga terus melorot untuk prestasi di bidang sains dan matematika.

"2010, Indonesia masih peringkat dua dunia. Sekarang drop jadi peringkat ke-34. Kami akan coba jalin hubungan lagi dengan diknas nanti," jelas Yohannes.

"Pelatihan dan persiapan ini harus sekali. Karena soal untuk olimpiade ini tidak sama seperti soal mereka di sekolah. Ini soal sudah setara dengan S3, kalau tidak percaya bisa dicoba saja," imbuhnya.

Kendati demikian, ia tetap berbangga pada tiga kontestan yang berhasil mengharumkan nama bangsa. Satu medali perunggu berhasil diraih oleh Himawan Winarto. Sementara dua kontestan lainnya yaitu Oki Gunawan dan Yudistira Virgus yang merupakan alumni TOFI berhasil memenangkan kategori kompetisi pembuatan soal.

"Membuat soal itu sangat susah. Yudistira dan Oki ini alumni TOFI. Keduanya bisa jadi contoh bagaimana dulu training yang dijalani hingga jadi seperti sekarang," tandasnya.

Mendikbud: Ujian Nasional Bisa Berubah

Mendikbud Mohammad Nuh menegaskan bahwa ujian nasional (UN) akan bisa berubah bila Kurikulum 2013 sudah benar-benar diterapkan.

"Tahun ini (2013), UN masih tetap, karena perubahan kurikulum masih Juni 2013, sedangkan UN akan dilaksanakan pada April-Mei 2013," katanya dalam Sosialisasi Kurikulum 2013 di Bangkalan, Senin (31/12/2012).
Dalam sosialisasi di hadapan sejumlah ulama se-Madura di Pesantren Al-Hikam, Burneh, Bangkalan, ia mengemukakan "proses" dan "output" dalam Kurikulum 2013 itu sama-sama penting.

"Karena itu, proses dan output harus dikombinasikan, sehingga UN ke depan akan bisa berubah, tapi perubahan itu bukan sekarang, sebab Kurikulum 2013 masih tahap uji publik," katanya.
Menurut dia, perubahan Kurikulum 2013 itu tidak dilandasi kepentingan politik sama sekali, melainkan murni dengan landasan akademik, karena itu pihaknya melakukan uji publik Kurikulum 2013.

"Kalau pertimbangan politik mungkin perubahan itu bisa batal, karena kami menghadapi stigma masyarakat yang seakan-akan membenarkan bahwa ganti menteri itu ganti kurikulum," katanya.
Namun, pihaknya mengambil risiko dengan mempertimbangkan kepentingan riil untuk masa depan generasi muda yang lebih baik yakni pintar tapi benar atau benar tapi pintar.

"Jadi, perubahan kurikulum itu untuk menyikapi perubahan zaman yang kelak akan mengutamakan kompetensi, namun kompetensi itu kami sinergikan dengan nilai-nilai karakter," katanya.
Ia menjelaskan kompetensi masa depan itu mencakup tiga bidang yakni sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.
"Perubahan sikap itu ditentukan pendidikan karakter, sedangkan perubahan ketrampilan dan pengetahuan itu ditentukan inovasi. Cara untuk mendidik siswa yang memiliki inovasi adalah mengembangkan kreatifitas," katanya.

Untuk mengembangkan kreatifitas, katanya, bisa dilakukan dengan lima tahapan yakni observasi (pengamatan), bertanya, berpikir (nalar), eksperimen, dan menyampaikan (presentasi tertulis atau lisan).
Jadi, saya tidak mempertimbangkan jabatan, tapi saya mempertimbangkan masa depan. Saya akan mendorong kompetensi itu agar generasi muda sekarang dapat membeli masa depan dengan harga  sekarang, katanya.
Acara sosialisasi itu dihadiri sejumlah ulama, antara lain KH Ahmad Tijani (Sumenep), KH Drs Mas ud MAg (Pamekasan), KH Fudloli Ruhan (Sampang), KH Darwis (Sampang), KH Basyir (Sampang), KH Ilyas (Bangkalan), KH Jazuli (Bangkalan), dan KH Busyro Dimyati (Bangkalan).

Dalam kesempatan itu, para ulama se-Madura mendukung rencana perubahan kurikulum itu, karena perubahan itu memasukkan pendidikan karakter.  Para ulama itu memprihatinkan masalah moral, karena itu kurikulum yang memasukkan karakter itu akan didukung, kata pengasuh Pesantren Al-Hikam, Burneh, Bangkalan KH Nuruddin A Rahman.

Tahun 2013 Disiapkan Rp 7,84 T Beasiswa

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengalokasikan anggaran Rp 7,84 triliun khusus untuk program beasiswa secara keseluruhan di tahun 2013. Dari jumlah itu, sebesar Rp 1,64 triliun akan dialokasikan untuk program Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin (Bidik Misi).

Jumlah anggaran untuk Bidik Misi ini naik dari Rp 1,1 triliun di tahun 2012. Pada tahun lalu jumlah penerima Bidik Misi hanya 92.000 orang.

Jumlah penerima beasiswa Bidik Misi akan ditambah menjadi 152.000 orang, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Jumat (28/12), di Jakarta.

Karena jumlah penerimanya bertambah, anggaran dinaikkan Rp 240 miliar untuk tambahan 40.000 anak dan dana resettlement Rp 300 miliar untuk 20.000 anak, ujarnya.

Alasan penambahan jumlah anggaran dan penerima beasiswa ini, kata Nuh, karena program ini dinilai berhasil membantu calon mahasiswa dan mahasiswa yang berprestasi tetapi tidak mampu. Nilai atau hasil belajar para penerima Bidik Misi pun memuaskan karena mayoritas memiliki nilai IPK di atas 2,75.

Kalau IPK mereka banyak yang di bawah 2,0, program ini tidak akan dilanjutkan, kata Nuh.

Rabu, 07 November 2012

Jurusan Teknik dan Bisnis di Eropa Paling Diminati

Pendidikan di Eropa masih menjadi magnet tersendiri bagi mahasiswa yang berada di Indonesia. Hal ini terbukti dengan jumlah mahasiswa yang diberangkatkan ke Eropa terus bertambah selama empat tahun terakhir ini baik untuk mengejar gelar sarjana maupun gelar master.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, Julian Wilson mengatakan bahwa jurusan teknik di Eropa mendapat animo paling tinggi dari mahasiswa Indonesia. Selanjutnya, jurusan yang juga diminati adalah jurusan bisnis dan manajemen.

"Untuk yang pertama masih jurusan teknik paling diminati. Kemudian kedua adalah jurusan bisnis. Alasannya, peluang kerja dari dua jurusan ini cukup besar," kata Julian di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Sabtu (3/11/2012).

Ia mengatakan dua jurusan tersebut laku ditawarkan di Indonesia karena universitas-universitas di Eropa tidak hanya mengajarkan teori di dalam kelas saja. Namun juga dibuka pelatihan langsung dan kesempatan magan sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikannyaa langsung.

"Untuk jurusan bisnis misalnya, kesempatan magang di perusahaan-perusahaan yang ada terbuka lebar untuk mengasah kemampuan," jelas Julian.

Selain kedua jurusan tersebut, jurusan bahasa dan budaya juga mendapat tempat tersendiri bagi mahasiswa Indonesia. Pasalnya, negara-negara di Eropa memang merupakan tempat yang sesuai untuk memperdalam masalah kebudayaan dan bahasa.

Dalam kesempatan ini, ia juga menuturkan bahwa pendidikan tinggi di Eropa terkenal dengan standar akademis berkualitas tinggi. Tidak hanya itu, banyak program gelar internasional dengan berbagai fasilitas pendidikan yang memadai dan biaya pendidikan yang murah ditawarkan di Eropa.

"Untuk itu, jangan ragu untuk mendaftar dan mencari informasi sebanyak-banyaknya karena membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia," tandasnya.

Tak hanya dapat ilmu

Dibandingkan dengan benua lain, Eropa memiliki daya tarik tersendiri bagi siswa maupun mahasiswa asing. Sebanyak 35 persen mahasiswa Indonesia memilih untuk menuntut ilmu di Eropa tiap tahunnya. Julian juga mengatakan bahwa Eropa menjadi pilihan mahasiswa Indonesia untuk merampungkan studi karena menawarkan banyak program baik untuk gelar sarjana, gelar master maupun gelar doktorat.

"Di Eropa ada sekitar 4000 universitas yang tersebar di berbagai negara. Kemudian beberapa negara juga telah menerima penghargaan nobel yang menonjolkan kualitas pendidikan di Eropa berbeda," katanya.

Selanjutnya, kerja sama yang baik antara pemerintah Indonesia dengan Uni Eropa juga membuat akses pendidikan bagi siswa atau mahasiswa Indonesia menjadi lebih mudah sehingga semakin meningkatkan minat untuk belajar di Eropa.

Tidak hanya itu, universitas di Eropa juga menawarkan banyak beasiswa yang bisa diraih oleh mahasiswa Indonesia untuk membantu pembiayaan pendidikan selama di Eropa. Beasiswa yang dapat diperoleh berasal dari berbagai sumber baik dari universitas terkait, konsorsium bahkan juga dari pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Siprus untuk Indonesia, Nicos Panayi, mengatakan bahwa banyak manfaat yang bisa didapat selama belajar di Eropa. Hal tersebut yang membuat negara-negara di Eropa seperti Jerman, Perancis, Belanda dan Inggris menjadi favorit untuk menuntut ilmu.

"Dengan belajar di Eropa, mereka tidak hanya belajar akademik tapi juga mempelajari keanekaragaman budaya yang ada," jelas Nicos.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa negara-negara di Eropa merupakan tempat yang cocok untuk melakukan penelitian akademik dan merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Untuk itu, banyak orang yang mengambil gelar doktorat di benua biru ini.

Rabu, 26 September 2012

Pendidikan SMAN SBBS, Sekolah Pencetak Juara Olimpiade Sains

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Sragen Bilingual Boarding School (SBBS) dapat menjadi contoh bagi sekolah yang ingin mengukir prestasi positif.

Meski berlokasi di salah satu kecamatan yang tidak terlalu ramai di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, namun sekolah yang baru berdiri lima tahun ini sudah menghasilkan segudang prestasi. Para siswanya pun tidak pernah tawuran.
Terakhir, sekolah ini mengirimkan 13 siswa terbaiknya mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ketiga belas siswa berhasil membawa pulang medali, yakni lima emas, lima perak, dan tiga perunggu untuk bidang Matematika, Biologi, Kebumian, Komputer, Fisika, Kimia, dan Ekonomi. 
Selain mencapai banyak prestasi di bidang akademik, sekolah ini tetap tidak melupakan pendidikan karakter. Ini dipermudah dengan sistem asrama bagi siswa-siswanya.

"Asrama membantu menanamkan pendidikan karakter bagi siswa. Mereka dilatih mandiri dengan penanaman sifat-sifat luhur, seperti jujur. Perubahan sekecil apapun pada siswa bisa terpantau sejak dini," kata Kepala SMAN SBBS, Nur Cipto, di Solo, Selasa (25/9/2012) kemarin.

"Di sekolah mereka tidak diperkenankan memegang telepon seluler dan uang saku pun hanya Rp 50.000 per minggu. Kalau punya uang lain harus dititipkan kepada pembina atau ditabung di bank. Kalau ingin mengambil lewat ATM harus izin dulu," tambahnya.

Untuk mendapatkan siswa bibit unggul, SMAN SBBS menyebar undangan ke SMP-SMP di seluruh Nusantara, terutama kepada siswa yang pernah menjadi juara atau finalis lomba atau Olimpiade Sains Nasional. Saat ini, di sekolah ini terdapat siswa dari seluruh Nusantara, seperti Kalimantan, Papua, Sumatera, dan daerah-daerah lainnya.

Para siswa berpotensi ini dibebaskan dari biaya pendidikan, termasuk biaya hidup selama sekolah di SBBS. Mereka juga dibina agar semakin terasah potensinya. Siswa yang masuk lewat jalur reguler harus membayar Rp 37 juta untuk satu tahun ajaran.
"Begitu siswa bergabung, langsung kami bina, yang berpotensi akademik kami masukkan pusat pelatihan 20 hari di Jakarta atau Yogyakarta bersama siswa dari jaringan sekolah kami, PASIAD, di beberapa kota lainnya. Kembali ke sekolah, mereka dibina oleh guru-guru dan dosen undangan," ungkap Koordinator Olimpiade SMAN SBBS, Eko Sugiyanto.

Setelah itu, siswa diikutkan berbagai perlombaan untuk mengetahui perkembangannya, termasuk puncaknya mengikuti OSN yang digelar Kemdikbud. Tahun lalu, beberapa siswa lulusan OSN dari sekolah ini juga berhasil meraih medali dalam ajang olimpiade internasional, antara lain di bidang fisika.