Terpilih sebagai Duta Pelajar Indonesia untuk Amerika dalam program
pertukaran pelajar AFS-YES atau American Field Service - Youth Exchange
Student dari Kedutaan Amerika Serikat di tahun 2008 silam, Fitra
Elnurianda akhirnya mewakili Indonesia untuk belajar 1 tahun di sekolah
bernama "School Without Walls".
"Jadi sekolah ini semacam SMA
publik dengan sistem pembelajaran berpindah-pindah atau moving class,"
tutur gadis berkerudung yang akrab disapa Fitra, di Jakarta, Jumat
(14/9/2012).
Fitra mengakui belajar di sekolah tanpa dinding
kelas (without wall) membuatnya tidak nyaman, ketika pertama kali
menjalaninya. Akan tetapi, setelah beradaptasi dengan tempat, guru, dan
teman-teman belajarnya, ia mulai menikmati sistem pembelajaran terbuka
itu.
"Belajarnya tidak harus di kelas. Kadang bisa di cafe,
taman, museum atau apapun. Namanya juga "tanpa dinding" jadi bisa
dimana-mana. Seru sih, jadi nggak ngebosenin kelasnya. Bebas," kata
Fitra lagi.
Ditanya soal perbedaan dengan sekolah pada umumnya di
Indonesia, mahasiswi Universitas Jayabaya, semester VII jurusan
Hubungan Internasional ini mengatakan sangat berbeda.
"Beda
banget, kalau di Indonesia, karena kelasnya disitu-situ aja, maka
temenannya jadi solid. Tapi, kalau disana temennya selalu beda-beda,
jadi kalau nggak bisa bergaul, nggak ada temen deh," ucap Fitra.
Soal
mata pelajarannya, Fitra memaparkan ada banyak mata pelajaran wajib
yang harus diikuti setiap kelasnya, mata pelajaran lainnya siswa dapat
memilihnya sendiri, seperti dance class, jazz music, atau kelas seni
lainnya.
"Gurunya sudah seperti kawan sendiri. Asik, tetapi tegas
kalau soal disiplin. Kita nggak bisa bolos satu hari pun. Sebab setiap
kelas akan diabsen, kalau nggak hadir, maka akan ada mesin telepon
otomatis yang menghubungi orangtua angkat kita disana," tuturnya.
Meski
diakui, cara belajar di luar negeri akan menjadi lebih sulit
dibandingkan dengan belajar di Indonesia, tetapi Fitra siap
membagi-bagikan tips and triks bagaimana cara belajar di sekolah terbuka
yang hari-hari kerjanya (workdays) lebih padat, sibuk dan serius
bersama buku-buku tebal dan dosen-dosen yang super ketat.
"Okay,
penyesuaian pertama memang agak berat saat 3 bulan pertama, tapi tenang
aja, lama-lama semuanya bisa lancar dan tertib kok," kata Fitra sambil
menunjukkan inilah tips belajar ala Fitra di sekolah terbuka Amerika.
1.
Pertama kali tiba di negara tempat kita belajar, pada masa-masa awal
harus serius menjalani adaptasi terutama Bahasa. Usahakan, kamu menjadi
orang yang supel, dan banyak bertanya. Kalau ada yang tidak dimengerti,
tanyakan saja. Guru-guru di sana selalu siap memberikan materi tambahan
pada saat break lunch atau pulang sekolah.
2. Belajarnya harus
disiplin dan tertib. Manajemen waktu itu penting, caranya kamu harus
mendaftar kegiatan harian kamu dengan sangat apik dan ditaati. Kamu
boleh sekali menguti banyak kegiatan, tetapi tugas-tugas belajar harus
diatur sedemikian rupa.
3. Bergaul dengan sesama pelajar dan
guru, jadi pada saat ada kesulitan, kita dapat langsung berkomunikasi
dengan mereka. Ikutlah makan siang, olahraga, atau salah satu kegiatan
yang lain dari mereka. Dengan sering bersama mereka, kita sudah menjadi
bagian dari komunitas mereka. Tapi ingat, tetap jaga orisinalitas
bangsa. Bebas, tapi sopan. Dan jangan lupa, minta kontak person dan
media sosial untuk menjaga komunikasi kita.
4. Jaga Kesehatan.
Yang ini tidak kalah penting jika kamu sering aktif di lingkungan baru
biasanya tubuh juga ikut beradaptasi. Iklim dan cuaca yang baru, kadang
kurang cocok dengan kondisi tubuh kita, jadi harus bisa jaga kesehatan
agar aktifitas belajar tidak terganggu. Usahakan makan tepat waktu, dan
berolahraga secara mandiri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar